Ayah, Aku Ingin Sekolah

 

Ayah, Aku Ingin Sekolah

Karya : Syafrina, S.Pd.SD

Nana berusia enam tahun kurang dua hari. Kata ayahnya kalau mau masuk sekolah dasar, harus umur 7 tahun. Kalau tidak, belum bisa.

“Ayah, Nana ingin sekolah.”

“Nana, mau sekolah dimana?”

“Dekat kakak. Pakai baju putih merah.”

“Nana, sayang, umur Nana baru enam tahun, belum boleh sekolah di SD.”

“Nana sudah besar, ayah. Mengapa belum boleh juga?”

“Kalau umur Nana sudah lebih dari enam tahun, baru boleh masuk SD.”

“Tidak mau, pokoknya Nana mau sekolah.”

“Nana boleh sekolah, tapi di TK ya.”

“Nggak mau, mauya SD sama kakak.”

 “Nana, sayang . kalau Nana mau sekolah di TK, ayah akan belikan tas baru.”

“Nana sudah punya tas, tas ini saja.”

“Atau kita jalan-jalan lagi Ke Puncak Cemara.”

“Nggak mau. Banyak monyet.” Ada-ada saja jawabannya. Padahal dia paling suka main di Puncak Cemara.

“Nana belum cukup umur, sayang.” Ibunya ikut membujuk.

“Pokoknya Nana mau sekolah sama kakak.”

Ayahnya begitu kewalahan dengan anaknya. Menyesal terlalu cepat menyekolahkan anak di Taman kanak-kanak. Umur belum cukup, masih ngotot masuk SD. Ayahnya kehabisan akal.

“Baiklah sayang. Besok kita pergi ke sekolah kakak ya.”
            “Horeee. Nana bisa sekolah di tempat kakak.”

Pagi-pagi sekali Nana sudah bangun. Lalu mandi dan Shalat Subuh, dengan khusyuknya dia berdo’a. Entah apa yang dia baca. Bacaan  Shalat saja belum bisa. Dia mengerti gerakan shalat karena sering mengikuti ayah, ibu dan kakaknya.

Diambilnya seragam putih merah lengkap dengan  dasi dan topi. Lalu dipakai sendiri tanpa bantuan ayah atau ibunya.

“Nana, kenapa pakai baju kakak?” Tanya kakaknya.

“Nana mau sekolah bersama kakak.”

“Itukan baju kakak waktu kecil, sekarang sudah sempit, tidak apa-apa kan jika dipakai adik? Tanya ibu kepada Siska

“Tidak apa-apa ibu. Iyakan adik cantik.”

“Nana cantik kan ayah.”

“Cantik, Nana pakai bedak sedikit saja ya.” Siska membedaki adikkya.

“Assalamualaikum.”

“Walaikum salam”

“Eh, ada anak pintar, mau mendaftar sekolah ya. Ayok salam sama ibu dan bapak guru.” Bu Ratna guru kelas satu menyapanya.   Nana kemudian bersalaman dengan Bu Ratna, juga guru-guru yang lain.

“Anak pintar, sudah mandi tadi?”

“Sudah buk.”

“Siapa namanya? “

“Nana, Buk.”

“Sudah gosok gigi?”

“Sudah  Bu. Ini gigi Nana bersih.” Nana memperlihatkan giginya. Bu Ratna tersenyum dan membelai gadis cilik itu.

“Umur Nana berapa?”

Nana menandang ayahnya. Dia takut umurnya belum cukup untuk masuk SD.

“Itulah buk, umurnya 6 tahun kurang 2 hari, apakah boleh dia sekolah di SD?”

“Peraturan tahun lalu berbeda dengan tahun ini, Pak.      Sebenarnya kami mau saja menerima, tapi datanya nanti tidak diterima Dapodik. Karena umurnya enam tahun kurang 2 hari. Datanya akan berwarna merah yang berarti dia bukan siswa yang sah.”

“Kalau jadi anak bawang saja bagaimana, Buk? Dia sangat ingin sekolah di sini.”

“Kasihan anaknya pak. Kalau anaknya ternyata pintar, kami tidak akan tega untuk tidak menaikkan kelasnya. Sedangkan dia belum terdaftar. Nanti kalau dia tidak naik kelas akan timbul beban baru dihatinya. Tidak mungkin dia kelas dua tapi data di Dapodiknya kelas satu.”

“Sebenarnya anjuran pemerintah sudah tepat bahwa siswa kelas satu SD harus minimal 6 tahun. Karena kalau kurang dari 6 tahun otaknya belum cukup matang dan kuat  untuk berfikir. Kasihan nanti otaknya kelelahan dan berdampak sangat buruk bagi perkembangan pemikirannya, jadi jika anak di sekolahkan umur 7 tahun, otaknya sudah cukup matang.”

“Kalau dia jadi anak bawang, akan menyulitkan bagi kami untuk mempertanggungjawabkannya. Mengingat anak-anak sekarang nakal-nakal.”

“Tolong ibuk bujuk anak saya buk, mana tahu dengan ibuk yang membujuk dia mau masuk TK kembali”

 “Nana ingin jadi anak pintar, kan?” Bu Ratna mendekati gadis kecil itu lagi.

“Iya, Bu.”

“Kalau ingin pintar harus patuh sama Bu Guru, mau?”
            “Mau, Bu.”

“Sekarang umur Nana kurang dari 6 tahun, Nana belum boleh masuk SD. Kalau dipaksakan juga, Nana akan bodoh, Nana mau jadi anak bodoh?”

“Tapi Nana sudah bisa baca, Bu.”

“Baca apa?”

“Nana bisa baca tulisan ini.” Nana menunjukkan bukunya diwaktu Taman Kanak-kanak.

“Coba Nana baca.”

Nana membaca satu demi satu huruf yang ada di bukunya. Kewalahan juga Bu  Ratna dibuatnya. Akhirnya kepala sekolah turun tangan. Nana dibawa masuk ke ruangan beliau.

“Nana mau jadi anak hebat?”

“Mau, Bu.”

“Kalau mau jadi anak hebat, Nana harus sekolah di TK lagi.”

“Nana sudah sekolah TK, Bu.”

“Nana sudah pernah ulang tahun?”

“Ulang tahun itu apa, Bu?”

“Nana tidak tahu?”

“Tidak, Bu.”

“Ulang tahun itu, ada acara pengajian di rumah. Banyak tamu yang datang untuk mendo’akan agar kita menjadi anak yang pintar. Nana mau jadi anak pintar?”

“Nana mau sekali, Bu.”

“Nanti setelah acara ulang tahun, Nana bisa sekolah lagi. Baru itu anak hebat.”

“Jadi Nana dido’akan untuk jadi pintar ya, Bu.”

“Iya sayang, Nana mau kan?“

“Mau, Bu.”

“Sekarang Nana sekolah di TK dulu, nanti setelah ada ulang tahun, baru Nana sekolah di SD. Setuju?”

“Setuju, Bu.”

Tak berselang lama kemudian Nana keluar dengan wajah gembira.

“Ayah, Nana mau sekolah di TK lagi.”

“Betul, Nana?”

“Betul ayah. Biar Nana semakin pintar.”

“Pintar anak ayah.”

Akhirnya Nana mau sekolah di TK lagi. Walaupun orangtuanya merasa kasihan harus mengulang lagi sekolah di TK. Tapi apa boleh buat, sudah terlanjur.

Hal ini bisa menjadi pengalaman berharga bagi kita. Terlalu cepat memasukkan anak sekolah bukanlah sebuah pilihan yang bijak. Lebih baik anak disekolahkan setelah anak mengalami kematangan sesuai umurnya.

 

Posting Komentar

0 Komentar