Jaga Sekolah Honorer Yang Berjasa

 


Jaga Sekolah Honorer yang Berjasa.

Karya              :  Syafrina, S.Pd.SD

            “Dian, bendera sudah dipasang ?” Tanya Ibu Kepala sekolah kepadaku.

            “Sudah, bu. Tadi saya minta anak-anak memasangnya.” Jawabku singkat.

            “Siapa yang menyapu ruangan kantor ?”

            “Saya, Bu. Pukul 06.30 WIB saya sudah di sini. Ruangan kantor sudah disapu dan di pel. Toilet juga sudah saya bersihkan.  Lalu kami mencuci piring kotor bersama anak-anak.”

            “Apakah guru lain tidak membantu ?”

            “Yang akan membantu siapa, Bu ? Paling Cuma Bu Susi. Yang lain sibuk dengan urusan administrasi kelas. Bu Ratna, Bendahara BOS, sedangkan saya sendiri harus pandai-pandai bagi waktu antara, administrasi kelas, inventaris barang, dan kegiatan literasi.”

            “Sebenarnya kita semua harus bekerja sama. Tapi apa boleh buat, kita Guru Sekolah Dasar memang terlalu banyak tugas. Andaikan ada jaga sekolah, tentu kamu tidak perlu mengerjakan semua itu.”

“Tapi, sekarang tidak ada pengangkatan untuk jaga sekolah, Bu.”

“Itulah Dian, sudah tidak ada pengangkatan untuk jaga sekolah. Tapi kalau ada yang mau honor di sini tentu akan lebih baik.”

“Kita coba saja cari, Bu. Mudah-mudahan ada.”

“Nanti kita cari, kalau ada yang mau digaji seratus ribu sabulan.”

“Sebenarnya kasihan juga, kerja begitu berat hanya digaji seratus ribu.” Sahutku sedih.

“Ya, bagaimana lagi. Kita tidak punya dana untuk itu. Siswa kita sedikit, makanya dana BOS kita juga sedikit.”

Maka berundinglah kami dengan komite sekolah dan wali nagari. Ada seorang yang mau honor. Namanya Pak Sukri dia berusia 39 tahun. Menurut aturan, untuk menjadi PNS harus berusia maksimal 35 tahun. Jadi tak ada kesempatan lagi. Kalau ada, harapannya sangat tipis.

“Pak, Sukri, benarkah Bapak mau membantu kami ?” Tanya Ibu Kepala Sekolah di ruangan beliau.

“Ya, saya mau, Bu. Asal tidak mengganggu pekerjaan saya yang lain.”

“Honornya sangat kecil, Pak. Hanya seratus ribu sebulan.”

“Tidak apa-apa bu, saya sambil ngantar anak juga.”

“Pekerjaan Bapak menyangkut yang penting-penting saja. Menyapu ruangan kantor dan mengisi tempat penampungan air.”

“Ya, tidak apa-apa Bu, jika saya mengerjakan yang lain juga, saya tidak keberatan.”

Mulai hari itu Pak Sukri bekerja dengan rajin. Halaman yang sudah merimba di cangkulnya. Pukul 06.30 beliau sudah ada di sekolah. Menyapu ruangan kantor dan mengepel. Lalu semua teras. Pokoknya sebelum anak-anak datang, lantai teras sudah bersih dan kering.

Saya selalu meluangkan waktu untuk menolong beliau. Saya datang sering pukul 06.30. Tak jarang kami datang bersamaan. Jika saya datang duluan, saya menyapu ruangan kantor, kemudian beliau yang mengepelnya.

“Pak Sukri, tidak usahlah mencuci piring. Biarlah guru-guru saja.” Kata Ibu Kepala Sekolah disuatu pagi.

“Tidak apa-apa, Bu. Saya bisa melakukannya.”

Pekerjaan yang paling sulit bagi kami adalah menaikkan air dengan mesin penyedot air. Kadang-kadang mesin rusak, kami tidak bisa berbuat apa-apa. Berkat Pak Sukri, air menjadi lancar dan memudahkan kami berwudlu untuk menunaikan Shalat Zuhur.

Ruangan majelis guru dipasang isolasi listrik paralel. Jadi siapa saja bisa mengecas hp atau laptop tanpa harus antri . Biasanya banyak kabel yang berkeliaran tidak teratur membentang di lantai dan dinding. Jika ada diantara kabel yang tergesek dan luka, maka akibatnya kita akan tersentrum.

Perkarangan bagian belakang sekolah ditanami sayur-sayuran. Semua dilakukan dengan ikhlas. Hanya butuh satu jam setiap pagi, semua sudah bersih dan rapi.

Ibu Kepala sekolah selalu berusaha agar Pak Sukri mendapatkan penghasilan lain. Seperti mengajkan ke BAZNAS kabupaten. Beliau juga tak segan-segan memberi tips berupa amplop atau makanan.

Pak Sukri adalah penjaga sekolah yang serba bisa. Bisa memperbaiki jaringan listrik yang rusak. Memasang pipa air ke sekolah yang biasanya hanya menggunakan selang yang bisa ditarik keman-mana. Tak jarang selang itu dipakai warga tanpa mengembalikan ke tempat semula. Sekarang sudah pakai paralon yang aman.

Tak terasa sudah dua tahun Pak Sukri bekerja sebagai jaga sekolah honorer dengan gaji Rp.100.000,00. Para guru sanagt berterima kasih kepada beliau. Beban sekolah menjadi ringan.

Kepala sekolah adalah orang yang arif bijaksana. Beliau sangat hormat dan santun kepeda Pak Sukri. Tak pernah berkata kasar. Jika beliau ada urusan dan minta diantar, beliau memberi uang yang lebih dari ongkos ojek biasanya.

Demikian juga dengan kami majelis guru, kalau kami ada rezeki, maka tenaga honorer juga kecipratan rezeki.

Jika sekolah harus dicat, maka Pak Sukrilah yang menerima upahnya. Beliau pun tidak mau di gaji sebanyak gaji tukang biasa. Upah yang sudah diberikan, sebagian disumbangkan kembali  ke sekolah atau dibelikan makanan kecil untuk majelis guru.

Penjaga sekolah memang penting. Namun keberadaannya seolah terabaikan. Ada pekerjaan yang tidak sempat dikerjakan oleh guru, juga tak sanggup dilakukan anak-anak. Harapan tertumpu pada pemerintah, mau bagaimana baiknya. Nasib tenaga honorer juga wajib dipertimbangkan.

Pak Sukri benar-benar seorang pahlawan.  Mudah-mudahan dengan kinerja beliau yang rajin, tulus ikhlas,  beliau bisa diangkat menjadi PNS bersama dengan jaga sekolah lain yang lebih dahulu mengabdi sebagai tenaga honorer.

 

 

 

 

 

 

 


Posting Komentar

19 Komentar

  1. Semoga ibu syafrina menjadi guru yang baik dan ikhlas mslh gaji itu urusan Allah yg penting kita melaksanakan tugas semampu kita.

    BalasHapus
  2. Wah, kisah-kisah seperti ini memang patut diabadikan. Membuat para pembaca menjadi sadar bahwa apa yang kadang kita anggap sepele justru memiliki nilai lebih.

    Jaga sekolah yang mungkin sering dipandang sebelah mata, namun tanpanya para guru serta warga sekolah lain akan kerepotan.

    Bagus tulisannya. Semangat.

    BalasHapus
  3. Bagus sekali tulisannya. Menyadarkan kita tentang peran penting seseorang yang terabaikan.

    BalasHapus
  4. Bagus sekali, Bu, sangat menginspirasi

    BalasHapus
  5. Bagus sekali, Bu, sangat menginspirasi

    BalasHapus
  6. Sesaat pikiran saya kembali ke SDN 21 kita yang tercinta Buk Syafrina,,
    Serasa bernostalgia dengan masa 6 tahun berselang disana

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya. saya mencintai sekolah ini...sangat cinta...20 tahun sudah pengabdian

      Hapus
  7. Subhanallah buk na, jrang ditemukan jasek yg mengabdi sprti pk syukri loo, smg Allah berikan yg terbaik buat beliau

    BalasHapus
  8. Wah, Ibu syafrina memang luar biasa pengabdiannya. Bekerja keras tanpa mempersoalkan gaji, semoga Allah menentukan yang terbaik.

    BalasHapus
  9. wah luar biasa bu....salut... sangat menginspirasi...🙏

    BalasHapus

Berkomentarlah dengan bijak